Senin, 29 Juni 2015

bertemu dengannya.

setiap orang punya ceritanya sendiri tentang pertemuan. tentang bagaimana, dengan siapa dan kapan mereka bertemu. aku tak pernah percaya dengan cinta tanpa pertemuan sebelumnya. kecuali cinta yang seorang ibu rasakan saat mengandung bayinya. tapi, siapa sangka itu terjadi kepadaku.

untuk pertama kalinya.

di suatu hari di bulan Maret 2010, teman SMA ku merayakan pesta ulang tahunnya di rumahnya. semua teman baiknya diundang, termasuk teman SD dan SMP nya. aku datang bersama kekasihku saat itu. kekasih yang justru cenderung melarangku berteman, pergi, atau melakukan hal lain yang tidak bersamanya. kekasih yang justru ingin membuatku lari sejauhnya. di pesta ulang tahun ketujuhbelas itu, yang bagi anak seusiaku adalah momen tak terlupakan, yang membuat lupa waktu, bahkan aku hanya sebentar menghadirinya. aku tak sadar, ada sepasang mata yang menangkap sosokku, mengingatnya, dan akan mencariku dengan cara yang dia bisa.

setelah pesta ulangtahun itu, teman-temanku membicarakan seorang lelaki. teman SD yang datang terlambat ke pesta, yang bahkan belum pernah aku lihat wajahnya. aku hanya mendengar lalu, karena aku samasekali tidak tertarik membicarakan seseorang yang tidak aku kenal. beberapa hari setelahnya, ada orang yang mengirimkan permintaan pertemanan ke akun Facebook-ku. orang yang sama dengan yang temanku bicarakan. aku menerimanya, tanpa pikiran apapun, hanya karena dia teman dari temanku. malamnya, dia online saat aku sedang online. dia mengajakku berbicara via chat, dan aku menanggapinya. aku bisa membicarakan banyak hal dengannya sampai larut malam, sampai lupa waktu. dan ternyata hal itu terulang terus sampai ke hari-hari esoknya.


dia berbeda.

aku merasa dekat dengannya. kita tidak menyukai semua hal yang sama, tapi obrolan kita selalu mengalir dengan hangat. dia tau kapan saatnya bercanda dan serius mendengarkanku. aku juga mendengarkan tentang cerita tentang masa sekolahnya yang sibuk, beda denganku yang cenderung santai menghadapi semua hal. sampai pada suatu waktu dimana dia memintaku untuk menjadi kekasihnya. ya, dia tau aku sudah punya pendamping, dan dia memintaku untuk meninggalkan kekasihku saat itu. bukan aku tidak ada perasaan apapun padanya, aku merasa aku sudah jatuh cinta pada sifatnya, pada cara dia memperhatikanku, pada dirinya yang mendengarkanku dengan baik. dia punya hal yang tidak aku temui pada kekasihku saat itu. tapi aku menganggap apa yang bisa diharapkan dari lelaki yang masih muda, yang bahkan belum bekerja. bisa saja dia hanya ingin membuang waktunya tanpa mempedulikan aku lagi nanti.

aku menyayanginya, tapi belum mempercayainya. aku menolaknya. dan dia pun berterimakasih atas obrolan kita kemarin. dia bilang dia akan menghilang, dan akan menemuiku lagi suatu hari nanti. aku kira itu hanya permainan kata orang yang ditolak, ternyata dia benar melakukannya. dia mengganti nomor ponselnya, mengganti nama pengguna media sosialnya, memblokirku dari pertemanan dunia maya, menutup semua akses bagiku untuk mencarinya. aku menangis saat itu. aku merasa kehilangan dirinya, aku merindukan obrolan kami tiap malam.

waktu berlalu.

hilang sudah dirinya, lelaki yang tak pernah kutemui itu. aku berusaha menghibur diriku dengan logika jalani saja yang sudah ada. aku meneruskan hubunganku yang tidak bahagia. aku masih saja merasa seperti dipenjara dengan sikapnya yang posesif dan otoriter. aku percaya manusia bisa saja berubah, walau aku tak pernah melihat perubahan positif dari hubunganku saat itu. hari berganti bulan dan bulan berganti tahun. aku lulus SMA dan tidak bisa kuliah karena satu dan lain hal. aku ingin bertemu orang lebih banyak dan mencari cara untuk mengakhiri hubunganku yang sudah tidak sehat. aku tidak mungkin terus bersama orang yang menyakitiku secara fisik maupun verbal, tetapi tiap aku akan meninggalkannya dia akan meratap kemudian mengancam. aku tidak bisa melihat dunia lebih luas jika tetap bersamanya.

pertemuan pertama.

September 2011. beberapa hari setelah Idul Fitri. aku sudah bekerja di restoran di bilangan Rawamangun. aku menemui banyak teman dan jika aku bekerja aku bisa lupa dengan masalah di hubunganku. suatu malam saat aku melihat akun Facebook ku, ada pesan masuk, dari Wahyu Ari Saputra. aku sampai mendiamkannya beberapa saat karena tidak percaya. ini lelaki yang dua tahun lalu menghilang begitu saja dari hariku tanpa pernah bisa aku cari. aku membacanya. isinya sederhana, hanya ucapan selamat Idul Fitri dan mohon maaf lahir batin. aku membalasnya, dan dia kembali mengirimkan permintaan pertemanan. aku mengirimkan nomor ponselku agar mudah berkomunikasi dengannya.

perasaan yang dulu kutepis itu timbul lagi. bahkan kali ini makin kuat. dia masih sama, masih menyenangkan diajak bicara. dia menawarkan diri untuk menjemputku bekerja, yang baru selesai pukul sepuluh malam waktu itu. aku mengizinkannya, aku juga ingin bertemu dengannya. tapi dia bilang untuk menunggunya karena sorenya dia menonton pertandingan sepakbola di GBK. aku menunggu. pukul sembilan malam dia bilang dia jadi menjemputku. dan benar, dia ada di depan restoran saat aku keluar. dia, yang dua tahun lalu menemani malamku dengan obrolannya, memintaku menjadi kekasihnya, aku tolak dan dia menghilang, kini ada di hadapanku. tersenyum dan memberikan helmnya. aku mengajaknya makan dan dia setuju. hari semalam itu, hanya restoran cepat saji yang masih buka. kami pun menuju ke restoran di daerah Duren Sawit.

aku benar. baik di chat atau bertemu langsung dia tetap sama. tetap menyenangkan, tetap seru diajak bicara. kami bicara banyak hal sampai pukul satu dinihari. dia mengantarku pulang. ada hal yang tidak dia tau saat itu, saat pertama bertemu di depan tempat kerjaku, sampai dia berhenti di depan rumahku, ada debar yang begitu membahagiakan. hatiku tidak pernah berdebar seperti itu sebelumnya. dan aku yakin aku akan bersamanya setelah ini.

dia ingin hubungan yang baik.

setelah mengantarku, kami makin sering berkomunikasi. saat itu aku masih punya kekasih, tapi dia tak peduli padaku sampai tidak memberi kabar. dua hari kemudian, dia bertanya apa aku masih dengan kekasihku yang dulu. aku menjawab iya. tapi aku bilang aku ingin lepas darinya dan memulai yang baru. dia bilang kalau sudah tak ada perasaan lagi lebih baik selesaikan. karena hubungan yang baik hanya terdiri dari dua orang. dia benar. esoknya aku putuskan kekasihku itu dan langsung diiyakan olehnya. aku mengabari lagi pada Wahyu dan dia hanya bilang iya. tapi malamnya, dia bilang untuk yang kedua kalinya, ingin aku menjadi kekasihnya. tentu saja kali ini aku bilang iya. aku tak akan melepaskannya lagi, karena aku sudah tau bagaimana dia membuktikan kata-katanya. dia tetap mencariku, walau sudah dua tahun berlalu.


rahasia Tuhan sungguh tak bisa ditebak oleh manusia. kemana arahnya, dan akan jadi apa akhirnya. dan aku tidak pernah berhenti bersyukur karena Allah memberitahu bagaimana orang yang salah, lalu dia memberiku orang yang benar.
 untuk lelakiku, aku mencintaimu. bahkan lebih dari yang aku rasa saat kita pertama kali bertemu.