Senin, 28 Desember 2015

setahun pertama

ungkapan 'time flies so fast' itu benar sekali adanya, ya. rasanya baru kemarin (ya ga kemarin banget sih) ribet urusan persiapan nikah, milih kebaya, belanja seserahan, nyari souvenir, dst... eh udah setahun aja nikahnya.

hari ini, 28 Desember 2015, ulangtahun pernikahan pertama saya sama Wahyu. kadonya udah duluan ya emang dasar dia mah ga bisa bikin surprise -_- dan saya sadar betul suami saya bukan tipe orang yang biasa menunjukkan perasaannya lewat kata, jadi tanpa ada ucapan yang manis-manis pas bangun tidur pagi tadi. cuma meluk, ya tapi saya udah tau maksudnya dia bilang selamat tahun pertama, gitu (atau anggap ajalah begitu). :')
flashback apa aja yang terjadi selama setahun pernikahan. di bulan kedua saya dicoba sama masalah finansial yang lumayan berat. sempat bingung mau cari jalan keluar kemana secara saya sama Wahyu emang ga mau masalah rumahtangga kami sampe orang lain tau, termasuk orangtua. tapi alhamdulillah kalau minta tolongnya sama Allah SWT mah apapun pasti bisa selesai. bulan selanjutnya paling masalah kebiasaan yang baru masing-masing tau, ribut kecil-kecil tapi bisa beres. namanya juga anak muda yang udah menikah ya pasti berantemnya mah masalah ego dan gengsi aja. seiring waktu udah bisa saling pengertian juga.

menjelang setahun, kehidupan udah mulai lumayan ajeg, sekali lagi alhamdulillah. finansial bisa diatur dengan baik, kebiasaan baik buruk udah bisa dihafal, rencana hidup ke depan udah mulai tertata. saya dan Wahyu satu pemikiran, sebisa mungkin ga mengandalkan gaji aja buat sehari-hari, karena banyak juga yang dibutuhkan kan. kami harus bisa berdiri sendiri tanpa ditopang orangtua lagi. karena itu kami sepakat bikin usaha kecil-kecilan, apapun asal uangnya bisa berputar ya dijalankan aja. ternyata hasilnya lumayan, buat tabungan lah biar bisa punya rumah sendiri dan kendaraan yang lebih nyaman, aamiin.

dan... sudah setahun saya menikah tapi Allah belum menitipkan janin dalam rahim saya. sesuatu yang paling saya tunggu dan usahakan. apalagi Wahyu yang suka sekali anak-anak, saya tau dia sama berharapnya seperti saya. saya yakin, Allah ingin kami lebih bersabar. semua hal dimudahkan sejak kami punya niat ingin menikah, mungkin ini waktunya Allah bilang 'tunggu'.

kata orang, setahun itu belum apa-apa. masih banyak halang rintang yang akan terjadi di depan. mungkin benar. saya cuma bisa berdoa, supaya Wahyu selalu seperti ini. sayang sama saya, bertanggungjawab sama keluarganya. supaya dia selalu sabar menghadapi yang sulit dan berat, dan kami akan mendapat hasil kesabaran kami nantinya. Insha Allah.

Kamis, 03 Desember 2015

pada kekasih hati.

sebelum memutuskan untuk hidup bersamamu, aku meyakinkan diriku, terutama hatiku, bahwa aku telah mengenalmu.
aku siap menerima kurang lebihmu,
aku siap menemanimu dalam semua peristiwa.
cinta saja tak pernah cukup untuk melangkah lebih jauh.
pernikahan, menurutku, lebih kepada janji dan komitmen, yang kadarnya harus lebih besar dari rasa sayang.
banyak pertanyaan terlintas, sebelum kita berikrar disaksikan malaikat.
bisakah aku tetap bersamamu meski keadaan yang buruk terjadi?
bisakah aku melakukan semua hal untukmu saat kamu tak bisa melakukan apapun?
bisakah aku mengerti pendapatmu bila itu tak masuk akal untukku?
bisakah aku meredam egoku untuk menjelaskan argumenku?
sebelum menikah, aku menjawab semua pertanyaan itu dengan kata iya.
tanpa ragu, tanpa tapi.
aku yakin karena aku bersama kamu yang juga yakin padaku.
aku tak akan meninggalkanmu walau terjadi hal yang buruk, karena semua yang buruk pernah terjadi padamu dan aku masih berdiri di tempatku.
aku akan tetap disampingmu meski kamu tak bisa melakukan apapun, aku bukan perawat yang handal tapi aku mampu melakukan hal yang benar saat darurat.
aku akan mengikuti keinginanmu asalkan kamu menjelaskan alasan yang benar padaku.
aku mengakui salahku jika ada hal yang tidak dapat diterima olehmu.
aku bisa melakukan itu semua karena kamu juga melakukan hal yang sama.
cinta telah membawa kita ke titik ini.
dimana perjuangan dan pengorbanan akan dibagi berdua.

masih sangat banyak yang akan kita alami,
yang membuat kita berselisih dan merasa benar sendiri.
bisa jadi dari kita, bisa jadi dari orang lain.
ingatlah,
bersamamu aku telah berjalan sejauh ini,
kita sudah menata sedikit demi sedikit kehidupan yang dulu masih dalam mimpi,
kita sudah melewati yang sulit dan sakit.
aku tidak akan berbalik karena apapun.
meski ada hal yang buruk di masa depan, apalagi untuk masa lalu.
buanglah semua khawatir dan takut, karena aku tak akan melepaskan genggamanku.
akulah bagian dari rusukmu.
dan aku masih sama saat kita pertama kali bertemu.


Jumat, 07 Agustus 2015

tentang menunggu.

menunggu, bagi saya, bukan hanya tentang keikhlasan dan kesabaran. tapi juga tentang doa, harapan, keyakinan dan kecemasan.

seperti kebanyakan orang yang telah menikah, tentu saja kehadiran anak adalah impian, bahkan mungkin keinginan yang utama. begitu juga saya. saya lebih menginginkan hidup pas-pasan saja (pas mau punya rumah, ada uang untuk beli; pas mau kemana-mana, pas ada mobil pribadi; pas mau makan, pas ada daging; dst... dst...)  tapi punya anak-anak yang menyenangkan daripada berlimpah ruah harta tapi kesepian. saya bukan tidak setuju dengan anak adopsi, tapi merasakan kehamilan, melahirkan, mengurus dengan segala kerepotannya itu priceless kan?

bukan cuma satu dua yang bertanya "kok masih langsing aja?" "udah ngisi belum?" "kapan punya anak?" "jangan nunda, nanti malah susah hamil lho" dan seterusnya, dan seterusnya. percayalah, wahai manusia kepo, tidaklah sopan bertanya seperti itu pada wanita yang telah menikah, walaupun memang dia sendiri yang memilih tidak mau punya anak. karena apa? karena itu hal pribadi. sangat. urusan dia sendiri dengan Sang Pencipta. memang dia sendiri yang mau terlambat hamil? memang dia tidak ingin menggendong anak sendiri? memang dia diam saja tanpa melakukan apapun sebagai ikhtiar? kalaupun dia memang tidak mau punya anak, apa faedahnya bagi orang yang bertanya seperti itu? peduli dan hanya ingin tau itu berbeda jauh sekali. jauh. ada yang bilang, bertanya "kapan hamil?" dalam bentuk apapun itu tersirat juga doa. bagi saya, doa yang tulus itu adalah doa yang diam-diam. tak perlu orang yang didoakan tau. buat apa punya niat memdoakan tapi membuat yang ditanya sedih? 

mungkin saya adalah salah satu wanita yang beruntung, punya suami yang pengertian dan memahami agama dengan baik. Wahyu selalu menidurkan kepanikan saya, menumbuhkan harapan saya, memupuk keyakinan saya dan selalu mengingatkan saya agar selalu berserah. bukan saya dan dia yang menentukan akan seperti apa hidup saya ke depan, kami cuma bisa merencanakan. lalu berusaha. sisanya, ada Allah SWT yang mengatur. dan Allah tidak mungkin salah. saya tidak bisa bertanya 'kenapa' pada Allah atas apa yang Dia berikan, karena Allah telah memberikan saya terlalu banyak. orangtua yang masih sehat, suami yang baik, mertua yang pengertian, kesehatan, perlindungan dan rezeki yang cukup.

bukannya tidak ada rasa iri saat saya melihat orang lain hamil dengan mudahnya, seolah tanpa usaha. malah ada yang bilang "tadinya gak mau hamil dulu" yang sepertinya melukai perasaan saya. makanya rasanya geram sekali melihat berita penyiksaan anak, pembunuhan bayi atau bayi yang dibuang. mereka tidak tau, banyak orang yang meminta anak dengan doa yang disertai tangisan, tapi mereka menyia-nyiakan harta yang sangat berharga.

saya bisa menghibur diri saya dengan "ya, mungkin disuruh jalan-jalan dulu, pacaran dulu" atau malah ada yang bilang "disuruh cari uang yang banyak dulu kali" dan setelah itu saya tersenyum. Allah pasti tau saya bukan orang yang bisa sabar menunggu, makanya Dia simpan hadiah itu untuk saat yang tepat. saat dimana saya benar-benar siap menjadi seorang ibu. siap menurut saya, belum tentu siap menurut Allah. baik untuk saya, belum tentu baik menurut Allah. saya hanya bisa terus berdoa dan berikhtiar, sisanya biar Allah yang memutuskan.

ya, saya akan menunggu. :)  

Kamis, 02 Juli 2015

kenapa menikah muda?

saat memposting foto lamaran, mengantarkan undangan, bahkan setelah resepsi pernikahan pun, pertanyaan itu paling sering menghantui saya, hahaha. saya sampai lupa berapa banyak yang menanyakan hal itu pada saya dan Wahyu, dan berapa banyak yang melirik ke perut saya saat resepsi. ya, memang hal yang wajar, saya dan Wahyu baru berusia 21 tahun ketika menikah. terlalu muda? mungkin. tapi saya merasa biasa saja. :)

saya tidak bisa mengontrol apa yang orang lain pikirkan. saya tahu mungkin banyak yang mengira saya hamil duluan, orangtua saya memaksa Wahyu untuk segera menikah, atau apalah pikiran negatif orang pada pernikahan saya. sampai waktu yang membuktikan sendiri bahwa saya menikah ya karena saya sudah ingin menikah.

memang banyak yang harus dipikirkan untuk menuju pernikahan. bahkan lebih banyak setelah acara pernikahan itu sendiri. sebelum pernikahan, yang harus dipikirkan adalah: sudah siapkah berumah tangga? sudah siapkah mengurus Wahyu? sudah siapkah harus menjadi lebih rajin (oke, ini khusus untuk saya)? sudah siapkah menjadi lebih penyabar karena segala sesuatu harus dibicarakan berdua? sudah siapkah menjalani semua peristiwa hidup bersamanya? sudah yakinkah bahwa dia akan jadi pendamping yang baik dan kelak akan jadi ayah bagi anak saya? ya, itu semua pertanyaan tentang kesiapan mental.

tapi kenyataannya, pernikahan tidak hanya butuh mental. tetapi juga materi. bohong kalau ada yang bilang pernikahan tidak butuh modal. nikahnya murah kalau di KUA? ya memang transportasi dari rumah ke KUA tidak perlu biaya? administrasi KUA tidak perlu biaya? semua pasti ada nominalnya walau sedikit. dan orang tua, pasti ingin mengundang teman-temannya dan menikah itu memang harus diumumkan kan? pernikahan, yang jadi ajak traktir terbesar (insha Allah) sekali seumur hidup itu, kita pasti ingin memberi yang terbaik yang kita bisa bagi para tamu yang kita undang. kembali lagi, semua butuh biaya. :p

meski masih 21 tahun, saya dan suami memikirkan hal itu dengan baik. tentang kesiapan mental kita, tidak hanya masalah cinta, tapi sudah sepakatkah kita akan saling mendengar dan menemani sampai nanti? bisakah kita memperkecil kemungkinan bertengkar untuk hal-hal sepele? saya dan Wahyu harus meyakini itu sebelum menikah. untuk saya pribadi, melihat dirinya selama 3 tahun berpacaran sudah cukup. bagaimana tanggungjawabnya, bagaimana kerja kerasnya, bagaimana sikapnya menghadapi masalah dan bagaimana caranya mencintai saya. kalau Wahyu? ya kalau dia tidak yakin, tidak mungkin dia melamar saya kan, hehehe.

kebetulan orangtua saya dan Wahyu juga bukan orangtua yang memaksakan kehendak. kalau orangtua saya, saat kami sudah berjalan 2 tahun pacaran Mama bertanya pada suami, hubungan ini serius atau baru kenalan-kenalan aja? Wahyu menjawab tegas tentu saja untuk serius. jadi Mama juga tenang. kalau Papa, beliau memang sangat menghargai pendapat anaknya. jika saya bisa mempertanggungjawabkan apa yang saya pilih, beliau pasti mendukung. saat saya dan suami tepat 3 tahun berpacaran, Wahyu meminta izin pada Mama untuk melamar. Mama kaget, tapi senang. beliau mengizinkan. sedangkan mertua, kata Wahyu sih, saat meminta izin untuk menikah orangtuanya cuma tanya memangnya sudah siap, mental dan uangnya? Wahyu jawab sudah. ya sudah, mereka mengizinkan. saya dan Wahyu sih yakin saja kalau orangtua sudah merestui, yang lainnya pasti akan lancar mengikuti. dan memang benar, ridho orangtua itu ridhonya Allah. saya dan Wahyu merasakan betul sejak sebelum lamaran, persiapan pernikahan, sampai pernikahan selesai, semuanya dimudahkan.

jadi, kalau ditanya mengapa menikah muda? jawabannya adalah kesimpulan dari apa yang saya ceritakan di atas. karena saya menikah memang murni karena saya dan suami ingin, bukan karena 'kecelakaan'. karena saya sudah siap baik mental dan materi. karena saya yakin pada pasangan saya. karena saya mau sosoknya jadi ayah anak-anak saya kelak. karena orangtua saya dan Wahyu mengizinkan. dan yang utama, saya mencari ridho-Nya. 

Senin, 29 Juni 2015

bertemu dengannya.

setiap orang punya ceritanya sendiri tentang pertemuan. tentang bagaimana, dengan siapa dan kapan mereka bertemu. aku tak pernah percaya dengan cinta tanpa pertemuan sebelumnya. kecuali cinta yang seorang ibu rasakan saat mengandung bayinya. tapi, siapa sangka itu terjadi kepadaku.

untuk pertama kalinya.

di suatu hari di bulan Maret 2010, teman SMA ku merayakan pesta ulang tahunnya di rumahnya. semua teman baiknya diundang, termasuk teman SD dan SMP nya. aku datang bersama kekasihku saat itu. kekasih yang justru cenderung melarangku berteman, pergi, atau melakukan hal lain yang tidak bersamanya. kekasih yang justru ingin membuatku lari sejauhnya. di pesta ulang tahun ketujuhbelas itu, yang bagi anak seusiaku adalah momen tak terlupakan, yang membuat lupa waktu, bahkan aku hanya sebentar menghadirinya. aku tak sadar, ada sepasang mata yang menangkap sosokku, mengingatnya, dan akan mencariku dengan cara yang dia bisa.

setelah pesta ulangtahun itu, teman-temanku membicarakan seorang lelaki. teman SD yang datang terlambat ke pesta, yang bahkan belum pernah aku lihat wajahnya. aku hanya mendengar lalu, karena aku samasekali tidak tertarik membicarakan seseorang yang tidak aku kenal. beberapa hari setelahnya, ada orang yang mengirimkan permintaan pertemanan ke akun Facebook-ku. orang yang sama dengan yang temanku bicarakan. aku menerimanya, tanpa pikiran apapun, hanya karena dia teman dari temanku. malamnya, dia online saat aku sedang online. dia mengajakku berbicara via chat, dan aku menanggapinya. aku bisa membicarakan banyak hal dengannya sampai larut malam, sampai lupa waktu. dan ternyata hal itu terulang terus sampai ke hari-hari esoknya.


dia berbeda.

aku merasa dekat dengannya. kita tidak menyukai semua hal yang sama, tapi obrolan kita selalu mengalir dengan hangat. dia tau kapan saatnya bercanda dan serius mendengarkanku. aku juga mendengarkan tentang cerita tentang masa sekolahnya yang sibuk, beda denganku yang cenderung santai menghadapi semua hal. sampai pada suatu waktu dimana dia memintaku untuk menjadi kekasihnya. ya, dia tau aku sudah punya pendamping, dan dia memintaku untuk meninggalkan kekasihku saat itu. bukan aku tidak ada perasaan apapun padanya, aku merasa aku sudah jatuh cinta pada sifatnya, pada cara dia memperhatikanku, pada dirinya yang mendengarkanku dengan baik. dia punya hal yang tidak aku temui pada kekasihku saat itu. tapi aku menganggap apa yang bisa diharapkan dari lelaki yang masih muda, yang bahkan belum bekerja. bisa saja dia hanya ingin membuang waktunya tanpa mempedulikan aku lagi nanti.

aku menyayanginya, tapi belum mempercayainya. aku menolaknya. dan dia pun berterimakasih atas obrolan kita kemarin. dia bilang dia akan menghilang, dan akan menemuiku lagi suatu hari nanti. aku kira itu hanya permainan kata orang yang ditolak, ternyata dia benar melakukannya. dia mengganti nomor ponselnya, mengganti nama pengguna media sosialnya, memblokirku dari pertemanan dunia maya, menutup semua akses bagiku untuk mencarinya. aku menangis saat itu. aku merasa kehilangan dirinya, aku merindukan obrolan kami tiap malam.

waktu berlalu.

hilang sudah dirinya, lelaki yang tak pernah kutemui itu. aku berusaha menghibur diriku dengan logika jalani saja yang sudah ada. aku meneruskan hubunganku yang tidak bahagia. aku masih saja merasa seperti dipenjara dengan sikapnya yang posesif dan otoriter. aku percaya manusia bisa saja berubah, walau aku tak pernah melihat perubahan positif dari hubunganku saat itu. hari berganti bulan dan bulan berganti tahun. aku lulus SMA dan tidak bisa kuliah karena satu dan lain hal. aku ingin bertemu orang lebih banyak dan mencari cara untuk mengakhiri hubunganku yang sudah tidak sehat. aku tidak mungkin terus bersama orang yang menyakitiku secara fisik maupun verbal, tetapi tiap aku akan meninggalkannya dia akan meratap kemudian mengancam. aku tidak bisa melihat dunia lebih luas jika tetap bersamanya.

pertemuan pertama.

September 2011. beberapa hari setelah Idul Fitri. aku sudah bekerja di restoran di bilangan Rawamangun. aku menemui banyak teman dan jika aku bekerja aku bisa lupa dengan masalah di hubunganku. suatu malam saat aku melihat akun Facebook ku, ada pesan masuk, dari Wahyu Ari Saputra. aku sampai mendiamkannya beberapa saat karena tidak percaya. ini lelaki yang dua tahun lalu menghilang begitu saja dari hariku tanpa pernah bisa aku cari. aku membacanya. isinya sederhana, hanya ucapan selamat Idul Fitri dan mohon maaf lahir batin. aku membalasnya, dan dia kembali mengirimkan permintaan pertemanan. aku mengirimkan nomor ponselku agar mudah berkomunikasi dengannya.

perasaan yang dulu kutepis itu timbul lagi. bahkan kali ini makin kuat. dia masih sama, masih menyenangkan diajak bicara. dia menawarkan diri untuk menjemputku bekerja, yang baru selesai pukul sepuluh malam waktu itu. aku mengizinkannya, aku juga ingin bertemu dengannya. tapi dia bilang untuk menunggunya karena sorenya dia menonton pertandingan sepakbola di GBK. aku menunggu. pukul sembilan malam dia bilang dia jadi menjemputku. dan benar, dia ada di depan restoran saat aku keluar. dia, yang dua tahun lalu menemani malamku dengan obrolannya, memintaku menjadi kekasihnya, aku tolak dan dia menghilang, kini ada di hadapanku. tersenyum dan memberikan helmnya. aku mengajaknya makan dan dia setuju. hari semalam itu, hanya restoran cepat saji yang masih buka. kami pun menuju ke restoran di daerah Duren Sawit.

aku benar. baik di chat atau bertemu langsung dia tetap sama. tetap menyenangkan, tetap seru diajak bicara. kami bicara banyak hal sampai pukul satu dinihari. dia mengantarku pulang. ada hal yang tidak dia tau saat itu, saat pertama bertemu di depan tempat kerjaku, sampai dia berhenti di depan rumahku, ada debar yang begitu membahagiakan. hatiku tidak pernah berdebar seperti itu sebelumnya. dan aku yakin aku akan bersamanya setelah ini.

dia ingin hubungan yang baik.

setelah mengantarku, kami makin sering berkomunikasi. saat itu aku masih punya kekasih, tapi dia tak peduli padaku sampai tidak memberi kabar. dua hari kemudian, dia bertanya apa aku masih dengan kekasihku yang dulu. aku menjawab iya. tapi aku bilang aku ingin lepas darinya dan memulai yang baru. dia bilang kalau sudah tak ada perasaan lagi lebih baik selesaikan. karena hubungan yang baik hanya terdiri dari dua orang. dia benar. esoknya aku putuskan kekasihku itu dan langsung diiyakan olehnya. aku mengabari lagi pada Wahyu dan dia hanya bilang iya. tapi malamnya, dia bilang untuk yang kedua kalinya, ingin aku menjadi kekasihnya. tentu saja kali ini aku bilang iya. aku tak akan melepaskannya lagi, karena aku sudah tau bagaimana dia membuktikan kata-katanya. dia tetap mencariku, walau sudah dua tahun berlalu.


rahasia Tuhan sungguh tak bisa ditebak oleh manusia. kemana arahnya, dan akan jadi apa akhirnya. dan aku tidak pernah berhenti bersyukur karena Allah memberitahu bagaimana orang yang salah, lalu dia memberiku orang yang benar.
 untuk lelakiku, aku mencintaimu. bahkan lebih dari yang aku rasa saat kita pertama kali bertemu.