menunggu, bagi saya, bukan hanya tentang keikhlasan dan kesabaran. tapi juga tentang doa, harapan, keyakinan dan kecemasan.
seperti kebanyakan orang yang telah menikah, tentu saja kehadiran anak adalah impian, bahkan mungkin keinginan yang utama. begitu juga saya. saya lebih menginginkan hidup pas-pasan saja (pas mau punya rumah, ada uang untuk beli; pas mau kemana-mana, pas ada mobil pribadi; pas mau makan, pas ada daging; dst... dst...) tapi punya anak-anak yang menyenangkan daripada berlimpah ruah harta tapi kesepian. saya bukan tidak setuju dengan anak adopsi, tapi merasakan kehamilan, melahirkan, mengurus dengan segala kerepotannya itu priceless kan?
bukan cuma satu dua yang bertanya "kok masih langsing aja?" "udah ngisi belum?" "kapan punya anak?" "jangan nunda, nanti malah susah hamil lho" dan seterusnya, dan seterusnya. percayalah, wahai manusia kepo, tidaklah sopan bertanya seperti itu pada wanita yang telah menikah, walaupun memang dia sendiri yang memilih tidak mau punya anak. karena apa? karena itu hal pribadi. sangat. urusan dia sendiri dengan Sang Pencipta. memang dia sendiri yang mau terlambat hamil? memang dia tidak ingin menggendong anak sendiri? memang dia diam saja tanpa melakukan apapun sebagai ikhtiar? kalaupun dia memang tidak mau punya anak, apa faedahnya bagi orang yang bertanya seperti itu? peduli dan hanya ingin tau itu berbeda jauh sekali. jauh. ada yang bilang, bertanya "kapan hamil?" dalam bentuk apapun itu tersirat juga doa. bagi saya, doa yang tulus itu adalah doa yang diam-diam. tak perlu orang yang didoakan tau. buat apa punya niat memdoakan tapi membuat yang ditanya sedih?
mungkin saya adalah salah satu wanita yang beruntung, punya suami yang pengertian dan memahami agama dengan baik. Wahyu selalu menidurkan kepanikan saya, menumbuhkan harapan saya, memupuk keyakinan saya dan selalu mengingatkan saya agar selalu berserah. bukan saya dan dia yang menentukan akan seperti apa hidup saya ke depan, kami cuma bisa merencanakan. lalu berusaha. sisanya, ada Allah SWT yang mengatur. dan Allah tidak mungkin salah. saya tidak bisa bertanya 'kenapa' pada Allah atas apa yang Dia berikan, karena Allah telah memberikan saya terlalu banyak. orangtua yang masih sehat, suami yang baik, mertua yang pengertian, kesehatan, perlindungan dan rezeki yang cukup.
bukannya tidak ada rasa iri saat saya melihat orang lain hamil dengan mudahnya, seolah tanpa usaha. malah ada yang bilang "tadinya gak mau hamil dulu" yang sepertinya melukai perasaan saya. makanya rasanya geram sekali melihat berita penyiksaan anak, pembunuhan bayi atau bayi yang dibuang. mereka tidak tau, banyak orang yang meminta anak dengan doa yang disertai tangisan, tapi mereka menyia-nyiakan harta yang sangat berharga.
saya bisa menghibur diri saya dengan "ya, mungkin disuruh jalan-jalan dulu, pacaran dulu" atau malah ada yang bilang "disuruh cari uang yang banyak dulu kali" dan setelah itu saya tersenyum. Allah pasti tau saya bukan orang yang bisa sabar menunggu, makanya Dia simpan hadiah itu untuk saat yang tepat. saat dimana saya benar-benar siap menjadi seorang ibu. siap menurut saya, belum tentu siap menurut Allah. baik untuk saya, belum tentu baik menurut Allah. saya hanya bisa terus berdoa dan berikhtiar, sisanya biar Allah yang memutuskan.
ya, saya akan menunggu. :)