saya tidak bisa mengontrol apa yang orang lain pikirkan. saya tahu mungkin banyak yang mengira saya hamil duluan, orangtua saya memaksa Wahyu untuk segera menikah, atau apalah pikiran negatif orang pada pernikahan saya. sampai waktu yang membuktikan sendiri bahwa saya menikah ya karena saya sudah ingin menikah.
memang banyak yang harus dipikirkan untuk menuju pernikahan. bahkan lebih banyak setelah acara pernikahan itu sendiri. sebelum pernikahan, yang harus dipikirkan adalah: sudah siapkah berumah tangga? sudah siapkah mengurus Wahyu? sudah siapkah harus menjadi lebih rajin (oke, ini khusus untuk saya)? sudah siapkah menjadi lebih penyabar karena segala sesuatu harus dibicarakan berdua? sudah siapkah menjalani semua peristiwa hidup bersamanya? sudah yakinkah bahwa dia akan jadi pendamping yang baik dan kelak akan jadi ayah bagi anak saya? ya, itu semua pertanyaan tentang kesiapan mental.
tapi kenyataannya, pernikahan tidak hanya butuh mental. tetapi juga materi. bohong kalau ada yang bilang pernikahan tidak butuh modal. nikahnya murah kalau di KUA? ya memang transportasi dari rumah ke KUA tidak perlu biaya? administrasi KUA tidak perlu biaya? semua pasti ada nominalnya walau sedikit. dan orang tua, pasti ingin mengundang teman-temannya dan menikah itu memang harus diumumkan kan? pernikahan, yang jadi ajak traktir terbesar (insha Allah) sekali seumur hidup itu, kita pasti ingin memberi yang terbaik yang kita bisa bagi para tamu yang kita undang. kembali lagi, semua butuh biaya. :p
meski masih 21 tahun, saya dan suami memikirkan hal itu dengan baik. tentang kesiapan mental kita, tidak hanya masalah cinta, tapi sudah sepakatkah kita akan saling mendengar dan menemani sampai nanti? bisakah kita memperkecil kemungkinan bertengkar untuk hal-hal sepele? saya dan Wahyu harus meyakini itu sebelum menikah. untuk saya pribadi, melihat dirinya selama 3 tahun berpacaran sudah cukup. bagaimana tanggungjawabnya, bagaimana kerja kerasnya, bagaimana sikapnya menghadapi masalah dan bagaimana caranya mencintai saya. kalau Wahyu? ya kalau dia tidak yakin, tidak mungkin dia melamar saya kan, hehehe.
kebetulan orangtua saya dan Wahyu juga bukan orangtua yang memaksakan kehendak. kalau orangtua saya, saat kami sudah berjalan 2 tahun pacaran Mama bertanya pada suami, hubungan ini serius atau baru kenalan-kenalan aja? Wahyu menjawab tegas tentu saja untuk serius. jadi Mama juga tenang. kalau Papa, beliau memang sangat menghargai pendapat anaknya. jika saya bisa mempertanggungjawabkan apa yang saya pilih, beliau pasti mendukung. saat saya dan suami tepat 3 tahun berpacaran, Wahyu meminta izin pada Mama untuk melamar. Mama kaget, tapi senang. beliau mengizinkan. sedangkan mertua, kata Wahyu sih, saat meminta izin untuk menikah orangtuanya cuma tanya memangnya sudah siap, mental dan uangnya? Wahyu jawab sudah. ya sudah, mereka mengizinkan. saya dan Wahyu sih yakin saja kalau orangtua sudah merestui, yang lainnya pasti akan lancar mengikuti. dan memang benar, ridho orangtua itu ridhonya Allah. saya dan Wahyu merasakan betul sejak sebelum lamaran, persiapan pernikahan, sampai pernikahan selesai, semuanya dimudahkan.
jadi, kalau ditanya mengapa menikah muda? jawabannya adalah kesimpulan dari apa yang saya ceritakan di atas. karena saya menikah memang murni karena saya dan suami ingin, bukan karena 'kecelakaan'. karena saya sudah siap baik mental dan materi. karena saya yakin pada pasangan saya. karena saya mau sosoknya jadi ayah anak-anak saya kelak. karena orangtua saya dan Wahyu mengizinkan. dan yang utama, saya mencari ridho-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar